RANTING NU

RANTING NU
Nahdlotul Ulama

Selasa, 14 Mei 2024

Semangat Ibadah Warga Nahdlatul Ulama: Menjaga Tradisi, Menggapai Ridha Ilahi

Kita semua adalah bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU), sebuah organisasi yang telah lama menjadi penjaga tradisi Islam di Nusantara. Sebagai warga NU, kita memiliki tanggung jawab besar untuk terus menjaga dan melestarikan tradisi ini, serta mengembangkannya agar tetap relevan dengan zaman. Salah satu cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan meningkatkan semangat ibadah kita. Mari kita renungkan beberapa alasan mengapa kita harus terus bersemangat dalam beribadah dan bagaimana caranya.

1. Ibadah Sebagai Bukti Cinta kepada Allah SWT

Ibadah adalah bentuk nyata dari cinta dan ketaatan kita kepada Allah SWT. Setiap shalat, dzikir, puasa, dan amal kebaikan yang kita lakukan adalah bukti cinta kita kepada Sang Pencipta. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Mari kita jadikan setiap ibadah sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, menunjukkan rasa syukur, dan memohon ampunan-Nya.

2. Meneladani Rasulullah SAW

Rasulullah SAW adalah teladan utama kita dalam beribadah. Beliau menjalankan ibadah dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan. Sebagai umatnya, kita seharusnya mengikuti jejak beliau dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam hal ibadah. Dengan meneladani Rasulullah, kita akan menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih dekat dengan Allah.

3. Keutamaan dan Manfaat Ibadah

Ibadah bukan hanya kewajiban, tetapi juga memiliki banyak manfaat baik di dunia maupun di akhirat. Shalat misalnya, selain sebagai tiang agama, juga memberikan ketenangan jiwa dan kedamaian hati. Puasa mengajarkan kita tentang kesabaran dan pengendalian diri. Sedekah membuka pintu rezeki dan menghapus dosa. Setiap ibadah yang kita lakukan membawa kebaikan bagi diri kita sendiri.

4. Menguatkan Ukhuwah Islamiyah

Ibadah juga memiliki aspek sosial yang sangat kuat. Shalat berjamaah, pengajian, dan kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya mempererat ukhuwah Islamiyah di antara kita. Dengan sering berkumpul dalam majelis-majelis ibadah, kita bisa saling menguatkan, saling mengingatkan, dan saling mendukung dalam kebaikan. Kebersamaan ini sangat penting untuk membangun komunitas yang harmonis dan penuh keberkahan.

5. Meningkatkan Kualitas Hidup

Ibadah yang dilakukan dengan ikhlas dan rutin akan meningkatkan kualitas hidup kita. Hidup kita menjadi lebih terarah, hati menjadi tenang, dan segala urusan dipermudah oleh Allah. Dengan meningkatkan kualitas ibadah, kita juga akan melihat perubahan positif dalam kehidupan sehari-hari.

Bagaimana Meningkatkan Semangat Ibadah?

  1. Memperdalam Ilmu Agama: Mengikuti majelis taklim, membaca buku-buku agama, dan berdiskusi dengan para ulama akan memperdalam pemahaman kita tentang pentingnya ibadah.
  2. Berkumpul dengan Orang Saleh: Bergaul dengan orang-orang yang rajin beribadah akan menulari kita dengan semangat yang sama.
  3. Membuat Jadwal Ibadah: Menjadwalkan waktu khusus untuk beribadah akan membantu kita lebih disiplin dan konsisten.
  4. Berdoa Memohon Kekuatan: Selalu memohon kepada Allah agar diberikan kekuatan dan kemudahan dalam menjalankan ibadah.
  5. Merenungi Keutamaan Ibadah: Mengingat selalu manfaat dan keutamaan ibadah akan meningkatkan motivasi kita.

Saudara-saudaraku, marilah kita jadikan semangat ibadah sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari. Mari kita tunjukkan bahwa warga NU adalah contoh terbaik dalam menjaga dan melaksanakan ajaran Islam dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan hidayah dan kekuatan kepada kita semua untuk terus beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Aamiin.

Jumat, 16 September 2022

Galau Dalam Masa Iddah

Deskripsi Masalah

Fatma baru saja ditinggal wafat suaminya beberapa hari yang lalu, belum kering air mata yang mengiringi kepergian suami tercinta, beberapa hari kemudian hantaman duka kembali menerpa dikala sang ibunda juga tutup usia. Ditengah badai duka yang menerpa, kini Fatma dihadapkan pada sebuah dilema antara menetap di rumah suami karena tuntutan Iddah wafat, atau pulang ke rumah orang tuanya yang tidak bisa dikatakan dekat.

Dalam kasus lain, Zahra santriwati yang menjadi janda muda yang masih cantik jelita juga mengalami kondisi yang hampir mirip dengan Fatma. Zahra yang baru ditinggal mati suaminya dipaksa pulang oleh orang tuanya yang sedang kritis. Dia memaklumi hal ini, karena orang tuanya memang tidak terlalu lama mengenyam pendidikan agama. Padahal pada saat yang sama dia juga masih menjalani masa Iddah.

Sedangkan, dalam kitab kifayatul Akhyar terdapat ibarot berikut:

وَلَا تعذر فِي الْخُرُوج لأغراض تعد من الزِّيَادَات دون الْأُمُور الْمُهِمَّات كالزيارة والعمارة واستنماء المَال بِالتِّجَارَة وتعجيل حجَّة الْإِسْلَام وزيارة بَيت الْمُقَدّس وقبور الصَّالِحين وَنَحْو ذَلِك فَهِيَ عاصية بذلك وَالله أعلم

Pertimbangan: jika Fatma dan Zahra tidak pulang, dia khawatir akan dicap sebagai anak durhaka oleh orang-orang yang tidak memahami posisinya yang berkaitan dengan kewajiban Iddah.


Pertanyaan:

A. Mempertimbangkan posisi Fatma, bolehkah dia pulang ke rumah orang tuanya untuk melayat sang ibu yang sudah wafat?

B. Mempertimbangkan posisi Zahra, dia sedang bingung antara menjalani masa Iddah atau menjenguk orang tuanya yang sedang kritis, Bagaimana sikap Zahra yang dibenarkan secara kacamata syariat? 

C. Apakah kekhawatiran mendapatkan stigma negatif dapat memberikan dispensasi bagi wanita Iddah untuk pindah lokasi Iddah?

(Pert, Ranting NU Sundoluhur)

Ngalaf Barakah Habib Syeckh


Habib Abdulqodir Abdurrahman Assegaf mempunyai 16 putra salah satunya Habib Syech. Profil Habib Syech memulai pendidikannya saat diberikan oleh guru besarnya sekaligus sebagai ayahanda tercintanya. Di saat itulah habib mendalami agama Islam dan akhlak luhur Nabi Muhammad Saw.

Semasa kecil, Habib Syech tidak pernah bermukim di sebuah pondok. Pendidikan Habib Syech lebih terjun ke masyarakat langsung melalui majelis taklim di masjid-masjid terutama Masjid Assegaf, Wiropaten, Pasar Kliwon, Solo.

Di situlah Habib kecil seusai Magrib menjelang Isya senantiasa istiqomah mengikuti halaqah keilmuan, belajar al Quran, membaca wirid-wirid bersama ayahanda tercinta. Di masjid Assegaf itu pulalah habib kecil dengan segala pengabdiannya menggunakan umur-umur SD- nya untuk berkhidmad membersihkan masjid, menyapu dan mengepel lantai masjid.

Mengutip dari wawancara Majalah Langitan, beliau menjelaskan bahwa orang yang paling menginspirasi dalam hidupnya tidak lain adalah ayah dan ibunya sendiri. Ayahnya bukanlah orang yang masyhur, namun ayahnya adalah seseorang yang sangat mencintai masjid.

Bagaimanapun keadaannya, baik sehat maupun dalam kondisi sakit beliau tetap mengimami. “Masjid adalah ‘istriku’ yang pertama,” itulah yang diucapkan dari seorang ayah yang kini putranya menjadi pengemban dakwah akhlak Rosulullah Saw.

Kata-kata itulah yang muncul tulus dari seorang yang sangat mencintai masjid, rumah Allah yang senantiasa digunakan sholat lima waktu. Hingga akhirnya, saat ayahanda Habib Syech menjadi Imam, Allah memberikan kasih sayang dengan mengambil sang ayahanda saat sujud dalam shalat Jumat terakhir. Subhanallah, sebuah akhir yang menyejukkan.

Selain dari ayahanda tercintanya, Habib Syech juga mendapat lanjutan pendidikan dari paman beliau Alm. Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf. Habib Ahmad adalah sosok yang berjasa dalam membangun mental Habib kecil. Pendidikan yang diberikan paman dari Hadramaut tersebut sangat berkesan bagi Habib Syech.

Pasalnya, sewaktu Habib Syech dibimbing Habib Ahmad, Habib Syech selalu dicaci, disalahkan meskipun Habib kecil waktu itu tidak melakukan kesalahan. Dalam pemaparannya, Habib kecil tidak tahu menahu mengenai sikap dari Habib Ahmad dalam membimbingnya. Bahkan, Habib kecil waktu itu hampir tidak kuat.

Ketika Habib kecil menghubungi salah satu teman yang mendampingi kedatangan pamannya ke Indonesia, barulah Habib Kecil menyadari bahwa apa yang dilakukan pamannya Habib Ahmad bin Andurrahman semata-mata hanya sebagai pembelajaran agar kedepannya Habib kecil menjadi sosok yang kuat secara mentalnya, sabar dan teguh dalam pendirian.

Begitulah pendidikan pamannya, perasaan kagum dan cinta kepada Habib kecil digunakan sebagai media pembelajaran akhlak.

Selain itu, pendidikan dan perhatian penuh juga diberikan Habib Syech dari Alm. Al Imam, Al Arifbillah, Al-Habib Muhammad Anis bin Alwiy Al-Habsy seorang Imam Masjid Riyadh dan pemegang magom al Habsyi. Berkat ketulusan, kesabaran dan kebesaran guru-gurunya itulah hingga saat ini Habib Syech masih setia menjalani dakwah mahabbaturrosul.

Seiring waktu berjalan, berkat keistiqomahan serta penyampaian komunikasi dakwah yang sederhana dan mudah dipahami, hingga saat ini terdapat lebih dari ribuan jamaah yang tergabung dalam Majelis Ahbabul Musthofa. Di majelis tersebut jamaah bersama-sama menyelami kisah-kisah rosul dan mengajarkan cinta kepada Allah lewat Rosulullah.

Habib Syech mempunya 5 putra yang bernama Fatimah, Muhammad Bagir, Umar, Abu bakar, dan Toha. Istri beliau bernama Sayyidah binti Hasan Alhabsyi.

Adapun sholawat rutinan yang diadakan berlangsung setiap Rabu jam 8 Malam di gedung Bustanul Asyiqin Solo. Acara rutinan tersebut juga disiarkan secara langsung di Youtube AM Solo.

Jumat, 05 Agustus 2022

Kegiata Siswa NU

 Carilah Informasi dari sumber lain mengenai sifat-sifat rasul yang diterangkan dalam al-quran! Tugas di upload pada kolom Komentar


Kenapa Golongan ASWAJA Menjadi Mayoritas

 1. Ajaran nya sesuai yang dicontohkan Nabi


Sabtu, 18 September 2021

UJI DIRI

Tugas Individu Jawablah Pertanyaan Pertanyaan di bawah ini dengan benar! 1. Mengapa kitab Jami'At-Tirmidzi dinamai Sunan? 2.Jelaskan hal yang dibahas dalam bab mengikuti sunah pada kitab Sunan Ibnu Majah? 3. Apa yang dilakukan Imam Bukhari sebelum menulis Hadits? 4. Jelaskan metode penambahan Hadits pada suatu hadits pokok dalam kitab sahih Muslim! 5. Bagaimana penulisan Kitab Sunan Abu Dawud dari banyak yang dikumpulkan Abu Dawud? Penting : jawaban ditulis dikolom komentar dibawah ini.

Rabu, 15 September 2021

Ngaji RT Nan

يؤتى الحكمة من يشاء ومن يؤت الحكمة فقد اوتي خيرا كثيرا وما يذكر الا اولواالالباب Dia memberikan Hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang Siapa yang diberi Hikmah , sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang mempunyai akal sehat. (QS:2:269) Allah SWT menganugerahkan hikmah kepada siapa saja dari para hamba yang dikehendaki-Nya. Menurut jumhur (mayoritas) ulama" yang dimaksud dengan hikmah adalah ilmu, fiqih dan Al-Qur'an.Hikmah membawa kepada kemampuan untuk membedakan antara hakekat atau kebenaran dan apa yang hanya bersifat prasangka belaka dan membedakan antara was-was atau godaan dan ilham Barang siapa yang memahami hukum dan rahasia rahasia yang terkandung dalam Al-Qur'an serta mengetahui dengan akal sehat yang dimilikinya apa yang terkandung dalam perintah sedekah berbagai macam manfaat bagi umat berupa kebaikan dan bagi yang berinfak berupa pahala yang banyak. Maka ia tidak akan terpengaruh dengan bisikkan dan bujukan setan.Ia tidak akan ragu-ragu di jalan Allah SWT. Barang siapa yang dikarunia oleh Allah SWT berupa ilmu yang bermanfaat terkhusus pemahaman yang mendalam tentang Al-Qur'an dan agama, memberinya petunjuk kepada hidayah akal maka ia telah ditunjukkan kepada kebaikan dunia dan akhirat serta memahami segala sesuatu sesuai dengan hakikatnya. Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'anh,ia berkata ."saya mendengar Rasulullah SAW bersabd: لاحسد الا في اثنتين رجل اتاه الله مالا، فسلط على هلكته في الحق، ورجل اتاه الله الحكمة فهو يقض بها. "Tidak ada perasaan الغبطة (menginginkan sesuatu yang dimiliki orang lain tanpa mengharapkan sesuatu tersebut hilang dari orang lain tersebut) kecuali terhadap dua orang yaitu : orang yang dikaruniai harta oleh Allah SWT lalu orang itu dijadikan mau membelanjakan didalam kebenaran. Dan yang kedua orang yang dikarunia hikmah, lalu menggunakan nya untuk memutuskan hukum dan mengajarnya kepada orang lain."(HR Bukhari Muslim, Nasai,Ibnu Majah dan Ahmad). Hikmah adalah ilmu, fiqih dan Al-Qur'an. Ilmu lebih utama karena lima sebab: 1. Ilmu tanpa amal tetap ada, sedangkan amal tanpa ilmu tidak ada. 2. Ilmu tanpa amal masih berguna, sedangkan amal tanpa ilmu tidak berguna. 3. Amal itu sesuatu kewajiban, sedangkan ilmu pemberi cahaya 4. Ilmu itu pangkat para nabi, 5. Ilmu itu sifat Allah sedangkan amal itu sifat hamba-hamba Allah

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *